"Wil... lu mau masuk mana nanti?" Pertanyaan seorang teman dekat saya
"Kalo maunya sih psikolog forensik"
"napa forensik? ada-ada aja dah lu" Jawab teman saya dengan kebingungan di wajahnya
"Kan tertariknya doang, gua takut liat orang gila, kalo PIO gua bisa bosen cepet kayaknya, rasanya kalo forensik engak monoton. Belum lagi area kerjanya masih ada sama hukum"
"Oh iya, lu anak hukum masuk psikologi. Gua masih engak terima lu milih masuk psikologi" Jawaban teman saya dengan senyum diwajahnya
"zaman berubah bro. Maklumlah dulu masih idealis banget" Ujar saya menanggapinya
"Sekarang juga masih kok, kalo engak mana mungkin elu maen di daerah hukum lagi"
"......" Saya hanya terdiam, tersenyum, dan memukul tangannya yang besar
Pembicaraan ini terjadi saat hari selasa 4 maret sebelum kelompok saya harus mempresentasikan tugas kami. Pembicaraan ini antara saya dan teman dekat saya, kami saling mengenal sejak kami masih kecil. Kami bertemu disalah satu tempat makan di Untar dan saya menyempatkan diri untuk meluangkan waktu sejenak menemani dia makan. Kami sering bertukar pikiran dan pandangan dari dulu, sudah lebih dari 14 tahun saya mengenalnya. Dia kuliah di fakultas seni rupa dan desain Untar, karena berbeda fakultas kami sulit bertemu.
Sedikit sharing cerita saja, saat saya masih SMP dan SMA awal impian saya sebenarnya adalah menjadi seorang jaksa penuntut ataupun pengacara. Saya mengimpikan dan mendambakanya sejak kecil. Tapi, seiring berkembangnya zaman dan waktu, saya menganggap idealisme saya sudah berkurang; saya semakin kecewa dengan sistem hukum yang ada di Indonesia. Biarpun saya ingin merubahnya saya menyadari juga bila seorang individu tidak dapat merubah sistem tanpa merubah dirinya. Dan saya merasa ilmu psikologi akan sangat berguna untuk itu. Sehingga pada masa SMA akhir saya mulai mempelajari psikologi, dan akhirnya memilih kuliah di psikologi
Berhubungan dengan presentasi teman-teman sekelas saya. Saya jujur tidak tertarik secara seutuhnya ke salah satu bidang. Karena tidak ada yang membahas tentang psikolog forensik (saya sendiri paham bahwa tidak banyak psikolog khusus yang bergerak di bidang forensik). Sekilas saja psikologi forensik dan Kriminologi adalah cabang dari psikologi klinis dewasa. Ya... jadi para pembaca sepertinya pahamlah sedikit ke-galauan saya. Saya takut dengan beberapa jenis abnormalitas, tapi saya ingin masuk ke dalam psikologi forensik yang sudah pasti akan berhadapan dengan abnormalitas.
Biarpun seperti yang diceritakan Ci Tasya, dan yang di sharing, dan presentasikan oleh teman-teman saya tentang psikologi klinis dewasa tidak semenyeramkan ketakutan dan persepsi saya tentang orang-orang yang memiliki abnormalitas. Malah cukup menarik ketika Ci Tasya menceritakan pengalamanya. Tapi saya tetap memiliki ketakutan tersendiri pada bidang klinis dewasa.
Saya sendiri cukup bingung, apakah saya harus melanjutkan pendidikan di bidang psikologi, ataukah saya harus mencoba pendidikan di bidang lain, atau saya harus menghadapi keadaan diri saya?
What next? I don't know.... Pertanyaan ini terus muncul di kepala saya selama beberapa hari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar