Hi.... sudah seminggu saya tidak memposting sesuatu disini
Maklumlah mulai banyak kesibukan akhir-akhir ini....
kuliah mulai lebih aktif dari biasanya, dan tugas-tugas juga sudah mulai menumpuk dan harus dikerjakan satu persatu....
Kebetulan saya besok akan ujian tentang "social history"
Jadi sembari saya me-review apa yang sudah saya pelajari, mari kita bahas tentang social history hari ini...
Secara sederhana kita dapat mengartikan social history sebagai
keseluruhan pengalaman, gambaran hidup, dan peran yang dimiliki
seseorang. Hal ini sangat dibutuhkan bagi seorang psikolog untuk mengali
alasan ataupun pemicu-pemicu gangguan yang dialami seseorang. Kita akan
mulai membedah bagian-bagian dari social history yang umumnya digunakan untuk mengali informasi.
Bagian pertama yaitu, family history. Singkat saja, bagian ini menjadi hal yang paling penting menurut saya. Karena segala sesuatu dimulai bersama keluarga, family history mencakup
peran klien dalam keluarganya sendiri, peran klien dalam keluarga
besarnya, budaya dan cara pengasuhan yang diberikan dan diterima klien.
Tidak hanya berupa hal-hal sosial saja, catatan kesehatan baik secara
psikologis dan biologis dibutuhkan.
Bagian kedua dalam social history adalah educational history. Kita
dapat mengartikanya secara langsung, pada bagian ini kita akan mengali
tentang tingkat pendidikan, catatan pendidikan (seperti nilai,
kelebihan, dan kekurangan klien). Tidak hanya berupa kemampuan
intelegensi klien saja. Kita juga harus mengali bagaimana sosialisasinya
di dalam lingkungan pendidikanya.
Pada tingkatan
selanjutnya, sesudah belajar di rumah, lalu menambah ilmu di sekolah.
Akan sayang sekali bila tidak digunakan untuk orang lain ataupun diri
sendiri. Maka kita harus mengali job history. Job history menekankan pada pekerjaan (secara profesional) dan kesibukan (secara umum). Terlihat sederhana namun terkadang informasi dari job history dapat
memunculkan beberapa informasi kuat lainya. Seperti alasan ia tetap
bertahan dalam pekerjaan, apakah pekerjaan tersebut adalah keinginanyan,
atau apakah bidang yang digelutinya sesuai dengan pendidikan yang
diambilnya?
Bagian keempat adalah marital history. Marital history membahas tentang status (menikah, jomblo, in relationship, it's complicated,
bercerai, atau sudah ditinggalkan oleh pasangan). Biasanya untuk
informasi ini sudah tertera dalam pengisian biodata. Tapi, tetap perlu
gali lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana klien memandang seseorang
yang penting dalam hidupnya.Bagian kelima adalah konteks sosial yang
lebih luas dari marital history yaitu interpersonal relationship. Jika dalam marital history mengacu pada seseorang yang dianggap penting, pada interpersonal relationship mengacu
kepada bagaimana seorang individu bersosialsasi dengan lingkungan
sekitarnya (rekan kerja, saudara, teman, tetangga, dll)
Bagian keenam juga tidak kalah penting yaitu recreational prefrence. Recreational prefrence adalah informasi yang berisi tentang bagaimana klien bersenang-senang umumnya. Bersenang-senang disini bisa mengacu pada perilaku negatif juga seperti penggunaan alkohol, seks bebas, narkoba, dan berbagai perilaku menyimpang lainya. Penting bagi seorang psikolog mengetahui hal tersebut, informasi-informasi ini akan menuntun psikolog ke bagaimana persepsi seseorang tentang tindakanya sendiri dan bagaimana klien memandang perilaku-perilaku yang ada.
Bagian ketujuh adalah bagian yang sensitif dan umumnya dianggap cukup privat yaitu sexual history. Dalam sexual history pertanyaan
yang diberikan harus dipilih dan disampaikan dengan baik dan benar agar
klien tidak merasa kita melewati batasan privasinya. Pertanyaan yang
diberikan mengacu pada orientasi seksual, ketertarikan seksual,
kekerasan seksual, penyakit menular seksual, dan tingkat kepuasan dalam
berhubungan seksual. Cukup sensitif bukan dalam wawancara? Karena itu
umumnya pertanyaan ini di berikan pada saat rapport yang sangat baik dan kuat sudah terbina dengan baik.
Catatan lain yang kita butuhkan dari klien adalah medical history. Medical history berupa riwayat kesehatan klien. Informasi ini umumnya berupa hal yang cukup
mendalam dan mendetail. Seperti: riwayat rumah sakit, riwayat sakit
yang diderita, riwayat operasi, riwayat obat dan dosis yang dikonsumsi,
dan riwayat penyakit yang dimiliki keluarga. Untuk itu perlu dilampirkan
beserta dengan catatan medis agar kita dapat mengkonfirmasi seutuhnya
dan sebenar-benarnya.
Diluar catatan kesehatan fisik, ada juga catatan kesehatan psikis. Informasi ini dikenal dengan psychotherapy history. Karena
terkadang beberapa analisa diagnosa sederhana tentang kelainan mental
yang diterima seseorang bisa saja memberikan pengaruh pada keadaanya
sekarang. Untuk itu informasi ini dibutuhkan, informasi ini juga
nantinya akan membantu kita menentukan treatment dan therapy yang harus diberikan kepada klien. Kita juga dapat mengali hal baru dengan bertanya tentang bagaimana treatment atau therapy yang pernah diterimanya? apa yang ia rasakan? atau kenapa ia membutuhkanya?
Catatan lainya yang penting dimiliki adalah legal history atau catatan hukum. Pertanyaan ini sifatnya sedikit seperti job history.
Jika kita memilih kata-kata yang kurang pas. Klien dapat berbohong
ataupun memilih tidak mejawab. Jadi ketika kita harus bertanya lebih
baik menggunakan kata-kata yang sifatnya ambigu seperti "apakah anda
pernah menghadapi masalah hukum?" atau "pernahkah anda memiliki kendala
dengan hukum?" agar klien tidak merasa menerima judgmental atau penilaian buruk secara langsung, daripada menggunakan pertanyaan yang men-judge
"apa pelanggaran hukum yang anda lakukan?". Jika seseorang sering
sekali melanggar hukum secara terus menerus, dapat memunculkan
kecendrungan characterological pathological (kelainan kepribadian)
2 bagian ini terpisah tapi umumnya memiliki keterakaitan, karena keduanya mengacu pada lifestyle atau gaya hidup jaman sekarang. 2 bagian itu adalah alcohol and substance use or abuse dan nicotine and caffeine consumption. Pada bagian alcohol and substance use mengali
informasi tentang konsumsi alkohol dan obat-obatan, penggunaan alkohol
dan obat-obatan secara berlebihan berdampak buruk baik secara fisik
maupun psikologis. Karena itu informasi ini penting agar kita memahami
kendala yang dialami klien baik yang berhubungan dengan alkohol dan
obat-obatan ataupun yang diakibatkan oleh kedua hal tersebut. Zat
adiktif lainya yang umum di konsumsi lainya adalah caffeine dan
nikotin. Keduanya sering dianggap remeh oleh beberapa orang, ataupun
sering tidak disadari. Konsumsi berlebihan pada kedua zat ini dapat
menghasilkan ketergantungan dan kerusakan fisik dan dapat menganggu
fungsi psikologis.
Kedua belas hal ini adalah galian yang penting dalam social history.
Untuk itu, penting bagi kita mengetahui cara dan bahasa yang tepat
dalam mengalinya. Ya.... untuk itu jam terbang dan praktik sederhana
maupun praktik langsung dibutuhkan agar kita semakin handal dan mampu
dalam mengali informasi-informasi penting ini.
Terimakasih sudah membaca dan menemani saya membuat review untuk ujian besok... :)
Have a nice day
Just My Simple Life
Rabu, 26 Maret 2014
Sabtu, 15 Maret 2014
What do I need?
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya wawancara adalah perbincangan antara 2 orang untuk menggali informasi baik informasi tentang fakta ataupun tentang emosi. Dapat dinyatakan bahwa antara esensi informasi dan esensi emosi terdapat hubungan. Pertanyaan sederhana "bagaimana seseorang bisa bercerita ataupun mengatakan masalahnya sejujurnya kepada anda bila ia tidak percaya dengan anda?"
Untuk itu bagi seorang calon psikolog kita harus memiliki beberapa keterampilan dasar. Pada posting kali ini saya akan membahas tentang keterampilan dasar yang dibutuhkan.
Kemampuan membina rapport adalah hal yang mendasar dari semua keterampilan yang harus dimiliki namun sangat penting untuk dimiliki, Rapport adalah kemampuan membangun hubungan yang hangat, dan nyaman sehingga mendorong klien untuk dapat berbicara dengan jujur dan terbuka. Penting bagi seorang psikolog untuk memberikan atensi penuh tanpa menilai setiap peryataan (baik ataupun buruk) dari klien, seorang psikolog juga dituntut untuk mengerti keadaan klien tapi tidak sok tahu. Contoh statement sederhana yang ditekankan Ibu Henny: “I’ve never been in that position, so I just can only
imagine how you felt”
Empathy adalah keterampilan kedua, keterampilan kedua ini muncul dari bina rapport yang baik. Semakin tingginya kualitas rapport semakin tinggi juga kualitas empati, begitu juga sebaliknya. Empati secara sederhana dapat diartikan sebagai merasakan apa yang dirasakan orang lain. Namun, untuk mencapai hal tersebut seorang psikolog harus mampu merasakan perasaan, pemahaman, dan pengalaman yang dirasakan oleh klien.
Attending behavior atau sikap yang memperhatikan adalah keterampilan ketiga yang harus dimiliki seorang psikolog dalam melakukan wawancara. Secara sederhana attending behavior adalah kondisi dimana seorang psikolog "hadir" untuk memperhatikan, dan mendengarkan masalah dari klien. Sehingga psikolog tidak boleh berfokus pada dirinya sendiri saat melakukan wawancara. Ia harus mampu berfokus pada klien dan memberitahukan pada klien bahwa ia fokus dan memperhatikanya dengan cara memberikan feedback (respon) positif seperti memberikan komentar atau pertanyaan yang berhubungan. Untuk mencapai attending behavior yang seutuhnya seorang psikolog harus mampu menjaga fokus matanya kepada klien tanpa membuat klien merasa di intimidasi, psikolog juga harus mampu mengolah kecepatan bicara dan penekanan suara, psikolog juga harus peka dalam melakukan wawancara agar tetap terfokus dengan topik, psikolog harus memunculkan bahasa tubuh yang atentif dan asli tidak di buat-buat.
Questioning technique adalah teknik untuk bertanya, sederhana saja kita tidak dapat menggali informasi jika kita tidak bertanya. Teknik bertanya terbagi 2 yaitu: Open dan Closed. Seperti artinya open adalah pertanyaan yang digunakan untuk menggali informasi yang sifatnya tidak mengarahkan pada jawaban tertentu dengan teknik pertanyaan ini kita bisa mendapatkan informasi yang lebih kaya. Sedangkan closed question adalah pertanyaan yang digunakan untuk mengarahkan kepada suatu jawaban tertentu, sehingga teknik ini baik digunakan saat kita ingin merujuk ke suatu pembahasan tertentu.
Dalam bertanya kepada klien ada beberapa hal yang harus dihindari. Pertanyaan yang sifatnya memaksa dan menginterogasi klien akan membuat klien akan merasa terganggu dan tidak percaya kepada psikolog. Jika pertanyaan sifatnya terlalu personal dan dengan daftar pertanyaan yang sangat banyak dan menekan akan membuat klien jgua merasa tidak nyaman. Kita juga tidak boleh membatasi eksplorasi cerita dari klien karena hal ini akan membatasi emosi klien yang muncul sehingga tidak tergali seutuhnya. Pertanyaan dengan kata "kenapa" lebih baik dihindari, karena pertanyaan ini memunculkan rasionalitas bagi klien, sehingga ia akan berpikir tentang bagaimana ia dapat menjawab pertanyaan tersebut bukan menjawab secara langsung dari perasaanya. Pertanyaan yang sifatnya untuk mengkonfirmasi kembali jawaban klien jika dilakukan secara terus menerus akan membuat klien merasa tidak nyaman.
Tentunya kemampuan observasi juga dibutuhkan dalam wawancara. Observasi dalam wawancara terfokus pada 3 area. Observasi verbal dengan memperhatikan kata-kata yang ditekankan oleh klien, observasi non-verbal dengan memperhatikan kata-kata klien dengan ekspresi ataupun perilaku yang dimunculkanya. Sesudah itu kita harus dapat melihat inkongurensi (korelasinya) jika kata-kata klien tidak sama dengan ekspresi yang dihasilkan kita dapat melihat bahwa klien tidak sepenuhnya jujur dan terbuka, atau klien tidak jujur sama sekali.
Keterampilan terakhir yang harus dimiliki oleh klien adalah active listening skills. Kemampuan ini ditunjukan dari bagaimana seorang psikolog mampu mendorong klien untuk bercerita lebih lanjut tentang masalah ataupun keluhanya tanpa membuat klien merasa terganggu, psikolog dapat melakukan probing (memvariasikan pertanyaan), memberikan dorongan non-verbal seperti mengangguk ataupun memunculkan ekspresi mengerti. Sisi lain dari active listening skill adalah dengan melakukan parafrase (menceritakan inti masalah klien dengan cara kita sendiri) dari masalah yang diceritakan klien. TIdak hanya menangkap inti pembicaraan, kita juga harus dapat menangkap emosi dan perasaan klien dari cerita yang disampaikanya, hal ini dilakukan dengan cara memperhatikan ungkapan klien tentang perasaanya sendiri, umumnya perasaan hanya diwakilkan oleh 1 kata, jika disampaikan dalam kalimat besar kemungkinan bahwa hal tersebut adalah pikiran bukan perasaanya. Setelah semuanya diceritakan oleh klien kita harus mampu melakukan summarizing (menyimpulkan) apa yang sudah dibahas klien. Kesimpulan umumnya dibentuk dari 4 bagian yaitu: susunan kata dari klien yang dirapihkan, kata kunci yang dikatakan oleh klien, inti dari kata-kata klien secara singkat dan jelas, dan melakukan klarifikasi dengan klien.
Sekian pembahasan tentang teknik wawancara minggu ini. Terimakasih atas waktunya, jika ada pertanyaan atau kritik maupun saran silahkan disampaikan. Semoga posting ini dapat bermanfaat. Terimakasih :)
Selasa, 11 Maret 2014
What next? (Sharing Cerita)
"Wil... lu mau masuk mana nanti?" Pertanyaan seorang teman dekat saya
"Kalo maunya sih psikolog forensik"
"napa forensik? ada-ada aja dah lu" Jawab teman saya dengan kebingungan di wajahnya
"Kan tertariknya doang, gua takut liat orang gila, kalo PIO gua bisa bosen cepet kayaknya, rasanya kalo forensik engak monoton. Belum lagi area kerjanya masih ada sama hukum"
"Oh iya, lu anak hukum masuk psikologi. Gua masih engak terima lu milih masuk psikologi" Jawaban teman saya dengan senyum diwajahnya
"zaman berubah bro. Maklumlah dulu masih idealis banget" Ujar saya menanggapinya
"Sekarang juga masih kok, kalo engak mana mungkin elu maen di daerah hukum lagi"
"......" Saya hanya terdiam, tersenyum, dan memukul tangannya yang besar
Pembicaraan ini terjadi saat hari selasa 4 maret sebelum kelompok saya harus mempresentasikan tugas kami. Pembicaraan ini antara saya dan teman dekat saya, kami saling mengenal sejak kami masih kecil. Kami bertemu disalah satu tempat makan di Untar dan saya menyempatkan diri untuk meluangkan waktu sejenak menemani dia makan. Kami sering bertukar pikiran dan pandangan dari dulu, sudah lebih dari 14 tahun saya mengenalnya. Dia kuliah di fakultas seni rupa dan desain Untar, karena berbeda fakultas kami sulit bertemu.
Sedikit sharing cerita saja, saat saya masih SMP dan SMA awal impian saya sebenarnya adalah menjadi seorang jaksa penuntut ataupun pengacara. Saya mengimpikan dan mendambakanya sejak kecil. Tapi, seiring berkembangnya zaman dan waktu, saya menganggap idealisme saya sudah berkurang; saya semakin kecewa dengan sistem hukum yang ada di Indonesia. Biarpun saya ingin merubahnya saya menyadari juga bila seorang individu tidak dapat merubah sistem tanpa merubah dirinya. Dan saya merasa ilmu psikologi akan sangat berguna untuk itu. Sehingga pada masa SMA akhir saya mulai mempelajari psikologi, dan akhirnya memilih kuliah di psikologi
Berhubungan dengan presentasi teman-teman sekelas saya. Saya jujur tidak tertarik secara seutuhnya ke salah satu bidang. Karena tidak ada yang membahas tentang psikolog forensik (saya sendiri paham bahwa tidak banyak psikolog khusus yang bergerak di bidang forensik). Sekilas saja psikologi forensik dan Kriminologi adalah cabang dari psikologi klinis dewasa. Ya... jadi para pembaca sepertinya pahamlah sedikit ke-galauan saya. Saya takut dengan beberapa jenis abnormalitas, tapi saya ingin masuk ke dalam psikologi forensik yang sudah pasti akan berhadapan dengan abnormalitas.
Biarpun seperti yang diceritakan Ci Tasya, dan yang di sharing, dan presentasikan oleh teman-teman saya tentang psikologi klinis dewasa tidak semenyeramkan ketakutan dan persepsi saya tentang orang-orang yang memiliki abnormalitas. Malah cukup menarik ketika Ci Tasya menceritakan pengalamanya. Tapi saya tetap memiliki ketakutan tersendiri pada bidang klinis dewasa.
Saya sendiri cukup bingung, apakah saya harus melanjutkan pendidikan di bidang psikologi, ataukah saya harus mencoba pendidikan di bidang lain, atau saya harus menghadapi keadaan diri saya?
What next? I don't know.... Pertanyaan ini terus muncul di kepala saya selama beberapa hari
"Kalo maunya sih psikolog forensik"
"napa forensik? ada-ada aja dah lu" Jawab teman saya dengan kebingungan di wajahnya
"Kan tertariknya doang, gua takut liat orang gila, kalo PIO gua bisa bosen cepet kayaknya, rasanya kalo forensik engak monoton. Belum lagi area kerjanya masih ada sama hukum"
"Oh iya, lu anak hukum masuk psikologi. Gua masih engak terima lu milih masuk psikologi" Jawaban teman saya dengan senyum diwajahnya
"zaman berubah bro. Maklumlah dulu masih idealis banget" Ujar saya menanggapinya
"Sekarang juga masih kok, kalo engak mana mungkin elu maen di daerah hukum lagi"
"......" Saya hanya terdiam, tersenyum, dan memukul tangannya yang besar
Pembicaraan ini terjadi saat hari selasa 4 maret sebelum kelompok saya harus mempresentasikan tugas kami. Pembicaraan ini antara saya dan teman dekat saya, kami saling mengenal sejak kami masih kecil. Kami bertemu disalah satu tempat makan di Untar dan saya menyempatkan diri untuk meluangkan waktu sejenak menemani dia makan. Kami sering bertukar pikiran dan pandangan dari dulu, sudah lebih dari 14 tahun saya mengenalnya. Dia kuliah di fakultas seni rupa dan desain Untar, karena berbeda fakultas kami sulit bertemu.
Sedikit sharing cerita saja, saat saya masih SMP dan SMA awal impian saya sebenarnya adalah menjadi seorang jaksa penuntut ataupun pengacara. Saya mengimpikan dan mendambakanya sejak kecil. Tapi, seiring berkembangnya zaman dan waktu, saya menganggap idealisme saya sudah berkurang; saya semakin kecewa dengan sistem hukum yang ada di Indonesia. Biarpun saya ingin merubahnya saya menyadari juga bila seorang individu tidak dapat merubah sistem tanpa merubah dirinya. Dan saya merasa ilmu psikologi akan sangat berguna untuk itu. Sehingga pada masa SMA akhir saya mulai mempelajari psikologi, dan akhirnya memilih kuliah di psikologi
Berhubungan dengan presentasi teman-teman sekelas saya. Saya jujur tidak tertarik secara seutuhnya ke salah satu bidang. Karena tidak ada yang membahas tentang psikolog forensik (saya sendiri paham bahwa tidak banyak psikolog khusus yang bergerak di bidang forensik). Sekilas saja psikologi forensik dan Kriminologi adalah cabang dari psikologi klinis dewasa. Ya... jadi para pembaca sepertinya pahamlah sedikit ke-galauan saya. Saya takut dengan beberapa jenis abnormalitas, tapi saya ingin masuk ke dalam psikologi forensik yang sudah pasti akan berhadapan dengan abnormalitas.
Biarpun seperti yang diceritakan Ci Tasya, dan yang di sharing, dan presentasikan oleh teman-teman saya tentang psikologi klinis dewasa tidak semenyeramkan ketakutan dan persepsi saya tentang orang-orang yang memiliki abnormalitas. Malah cukup menarik ketika Ci Tasya menceritakan pengalamanya. Tapi saya tetap memiliki ketakutan tersendiri pada bidang klinis dewasa.
Saya sendiri cukup bingung, apakah saya harus melanjutkan pendidikan di bidang psikologi, ataukah saya harus mencoba pendidikan di bidang lain, atau saya harus menghadapi keadaan diri saya?
What next? I don't know.... Pertanyaan ini terus muncul di kepala saya selama beberapa hari
Senin, 10 Maret 2014
Industrial and Organizatonal Psychology
Pada 2 minggu pertemuan di kelas Teknik Wawancara
Saya dan teman-teman membahas tentang berbagai bidang lanjutan dari psikologi
Bidang-bidang yang dibahas adalah bidang klinis anak dan dewasa, bidang pendidikan, dan bidang industri organisasi. Kebetulan kelompok kami membahas tentang bidang industri organisasi.
Saya dan teman-teman kelompok saya mendapatkan kesempatan mewawancarai seorang praktisi bidang industri organisasi kebetulan subyek kami adalah seorang lulusan psikologi. Ia bekerja selama 2 tahun dibidang senior staff recruitment. Subyek sangat ramah dan terbuka dengan kami, ia juga tidak segan mengobrol dengan kami.
Saya akan memaparkan hasil wawancara kami disini
Menurut subyek wawancara adalah hal yang sangat penting, yang dilakukan oleh dua individu. Selain itu, terjadi percakapan yang saling berbalas, dengan kondisi dua orang yang saling berbicara, dan menggali sesuatu masalah.
Subyek mengaplikasikan wawancara sebagai alat utama dalam merekrut seorang karyawan disamping alat test. Bagi subyek wawancara dapat menggali berbagai hal diluar dari alat test, dan menurutnya wawancara juga mencegah ataupun menguranggi kesempatan seseorang untuk berbohong
Saya dan teman-teman membahas tentang berbagai bidang lanjutan dari psikologi
Bidang-bidang yang dibahas adalah bidang klinis anak dan dewasa, bidang pendidikan, dan bidang industri organisasi. Kebetulan kelompok kami membahas tentang bidang industri organisasi.
Saya dan teman-teman kelompok saya mendapatkan kesempatan mewawancarai seorang praktisi bidang industri organisasi kebetulan subyek kami adalah seorang lulusan psikologi. Ia bekerja selama 2 tahun dibidang senior staff recruitment. Subyek sangat ramah dan terbuka dengan kami, ia juga tidak segan mengobrol dengan kami.
Saya akan memaparkan hasil wawancara kami disini
Menurut subyek wawancara adalah hal yang sangat penting, yang dilakukan oleh dua individu. Selain itu, terjadi percakapan yang saling berbalas, dengan kondisi dua orang yang saling berbicara, dan menggali sesuatu masalah.
Subyek mengaplikasikan wawancara sebagai alat utama dalam merekrut seorang karyawan disamping alat test. Bagi subyek wawancara dapat menggali berbagai hal diluar dari alat test, dan menurutnya wawancara juga mencegah ataupun menguranggi kesempatan seseorang untuk berbohong
Kelebihan wawancara menurut subyek adalah Kita
dapat mengetahui orang lebih dalam, apa yang tidak kelihatan kita bisa tahu sehingga pendekatan emosional menjadi lebih kuat. Kita juga dapat mengetahui orang tersebut
memiliki kelebihan di bidang mana dan bagaimana karakteristik orang tersebut.
Kekurangan wawancara menurut subyek adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mengali data seseorang sehingga efisiensi menjadi menurun
Kendala yang sering dialami subyek adalah ketika ia harus melakukan wawancara terhadap seorang yang introvert dan sangat menutup diri. Sehingga saat melakukan wawancara calon karyawan tersebut tidak menunjukan sedikitpun respon lain kecuali jawaban dari pertanyaan yang diberikan subyek. Cara subyek menghadapinya adalah dengan memberikan pertanyaan yang memaksanya membuka diri seperti meminta orang tersebut menceritakan tentang dirinya sendiri.
Sekian hasil wawancara praktisi industri organisasi kelompok saya
UI LEWAT! (sharing pengalaman)
Saya juga menceritakan hal-hal yang menurut saya menarik saat di kelas... Pasti akan membosankan bila saya hanya menceritakan tentang materi dan teori saja. Ini sedikit cerita dari perspektif saya sebagai mahasiswa di kelas.
Ibu Henny selalu menekankan sesuatu yang membuat saya menjadi... Hmm... bisa dibilang "bangga"
Ibu Henny menekankan satu hal "LULUSAN PSIKOLOGI UNTAR TIDAK KALAH DARI UNIVERSITAS LAIN. UI JUGA LEWAT".... Statement tersebut mendadak membuat saya duduk tegak di kelas.... Beliau juga menjelaskan hal yang membedakan lulusan psikologi untar dengan universitas lain.
Beliau menjelaskan tentang motto fakultas psikologi untar yang sekarang tidak terpampang lagi di kelas-kelas yaitu "CINTA"
C: Costumer Service, bersedia melayani orang lain dan lingkungan dengan tulus dan iklas
IN: Integrity, menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam hidup
T: Togetherness, kebersamaan dalam mendukung dan membantu yang lain
A: Achievement, mencapai pemahaman materi belajar dan mendapatkan sebuah pencapaian
Setelah kuliah 6 semester, rasanya baru Ibu Henny yang membahas tentang motto itu. Sejujurnya saya penasaran sejak pertama kali melihatnya.... hahahaha.....
Salah satu hal yang ditekankan beliau lainya adalah 5 senjata psikolog
Mata: mata berguna untuk menangkap berbagai kejadian yang ada disekitar kita
Telinga: tidak hanya mendengar tapi menyimak setiap perkataan dari orang lain
Mulut: alat komunikasi kita dengan orang lain
Otak: pusat kordinasi ke-3 senjata sebelumnya. Dan pusat mengolah informasi yang didapat
Hati: bagian terpenting untuk merasakan dan memahami keadaan sekitar kita dan orang lain
Di kelas metode observasi sebelumnya, saya hanya diajarkan untuk buka mata, buka pikiran, dan menulis. Berati dalam teknik wawancara, seluruhnya menjadi lebih comprehensive hal ini muncul dipikiran saya pertama kali mendengar Ibu Henny membicarakan hal ini.
Sehabis pemikiran tersebut... muncul pemikiran lainya "berarti tugas gua lebih banyak lagi dong... siap-siap kerja keras lagi deh"... Sekian kejadian yang saya anggap menarik dari kuliah teknk wawancara sesi pertama dan kedua.
Ibu Henny selalu menekankan sesuatu yang membuat saya menjadi... Hmm... bisa dibilang "bangga"
Ibu Henny menekankan satu hal "LULUSAN PSIKOLOGI UNTAR TIDAK KALAH DARI UNIVERSITAS LAIN. UI JUGA LEWAT".... Statement tersebut mendadak membuat saya duduk tegak di kelas.... Beliau juga menjelaskan hal yang membedakan lulusan psikologi untar dengan universitas lain.
Beliau menjelaskan tentang motto fakultas psikologi untar yang sekarang tidak terpampang lagi di kelas-kelas yaitu "CINTA"
C: Costumer Service, bersedia melayani orang lain dan lingkungan dengan tulus dan iklas
IN: Integrity, menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam hidup
T: Togetherness, kebersamaan dalam mendukung dan membantu yang lain
A: Achievement, mencapai pemahaman materi belajar dan mendapatkan sebuah pencapaian
Setelah kuliah 6 semester, rasanya baru Ibu Henny yang membahas tentang motto itu. Sejujurnya saya penasaran sejak pertama kali melihatnya.... hahahaha.....
Salah satu hal yang ditekankan beliau lainya adalah 5 senjata psikolog
Mata: mata berguna untuk menangkap berbagai kejadian yang ada disekitar kita
Telinga: tidak hanya mendengar tapi menyimak setiap perkataan dari orang lain
Mulut: alat komunikasi kita dengan orang lain
Otak: pusat kordinasi ke-3 senjata sebelumnya. Dan pusat mengolah informasi yang didapat
Hati: bagian terpenting untuk merasakan dan memahami keadaan sekitar kita dan orang lain
Di kelas metode observasi sebelumnya, saya hanya diajarkan untuk buka mata, buka pikiran, dan menulis. Berati dalam teknik wawancara, seluruhnya menjadi lebih comprehensive hal ini muncul dipikiran saya pertama kali mendengar Ibu Henny membicarakan hal ini.
Sehabis pemikiran tersebut... muncul pemikiran lainya "berarti tugas gua lebih banyak lagi dong... siap-siap kerja keras lagi deh"... Sekian kejadian yang saya anggap menarik dari kuliah teknk wawancara sesi pertama dan kedua.
Talking or Interviewing?
Apa itu wawancara?
Sedikit perbincangan antara saya dan kakak perempuan saya
"Wawancara? Hmmm..... 2 orang ngobrol biar dapet informasi". Respon kakak perempuan saya saat melihat judul blog ini
"Yakin? kalo gitu ini wawancara bukan?" Saya tersenyum saat menanggapi responya
"Hmm.... ya gak gitu juga, beda pokoknya." Lalu dia keluar dari kamar saya dengan wajah yang cuek
Kata-kata kakak perempuan saya tidaklah salah seutuhnya, lalu apa yang membedakan percakapan biasa dengan wawancara? Itu juga menjadi pertanyaan saya beberapa bulan sebelum mengambil pelajaran Teknik Wawancara ini.
2 minggu yang lalu pertanyaan ini dijawab oleh dosen saya (Ibu Henny Wirawan) melalui perkuliahan yang dibawakan olehnya... Wawancara tidak hanya mengali informasi atau fakta semata, namun esensi dari emosi dan perasaan juga digali melalui wawancara. Berbeda dari mengobrol, wawancara memiliki tujuan dan arah yang tepat.
Wawancara bukanlah percakapan sederhana... Dalam wawancara terdapat susunan pertanyaan yang terstruktur dan bersifat emosional dan pribadi bagi klien (senang ataupun sedih). Sehingga dalam wawancara seorang pewawancara dituntut untuk mampu melakukan observasi perilaku sambil memahami pembicaraan, gaya bahasa, bahasa tubuh, dan bidang yang akan dibicarakan bersama klien. Hal inilah yang nantinya akan memberikan kita gambaran emosi klien seutuhnya.
Untuk itu dalam mencapai tujuan wawancara diperlukan 3 hal:
Sedikit perbincangan antara saya dan kakak perempuan saya
"Wawancara? Hmmm..... 2 orang ngobrol biar dapet informasi". Respon kakak perempuan saya saat melihat judul blog ini
"Yakin? kalo gitu ini wawancara bukan?" Saya tersenyum saat menanggapi responya
"Hmm.... ya gak gitu juga, beda pokoknya." Lalu dia keluar dari kamar saya dengan wajah yang cuek
Kata-kata kakak perempuan saya tidaklah salah seutuhnya, lalu apa yang membedakan percakapan biasa dengan wawancara? Itu juga menjadi pertanyaan saya beberapa bulan sebelum mengambil pelajaran Teknik Wawancara ini.
2 minggu yang lalu pertanyaan ini dijawab oleh dosen saya (Ibu Henny Wirawan) melalui perkuliahan yang dibawakan olehnya... Wawancara tidak hanya mengali informasi atau fakta semata, namun esensi dari emosi dan perasaan juga digali melalui wawancara. Berbeda dari mengobrol, wawancara memiliki tujuan dan arah yang tepat.
Wawancara bukanlah percakapan sederhana... Dalam wawancara terdapat susunan pertanyaan yang terstruktur dan bersifat emosional dan pribadi bagi klien (senang ataupun sedih). Sehingga dalam wawancara seorang pewawancara dituntut untuk mampu melakukan observasi perilaku sambil memahami pembicaraan, gaya bahasa, bahasa tubuh, dan bidang yang akan dibicarakan bersama klien. Hal inilah yang nantinya akan memberikan kita gambaran emosi klien seutuhnya.
Untuk itu dalam mencapai tujuan wawancara diperlukan 3 hal:
- Awareness: Menyadari bahwa masalah kontekstual yang terjadi di luar kontrol seseorang dapat mempengaruhi cara seseorang mendiskusikan pendapatnya. Singkatnya perlu bagi seorang klien memahami dan menghargai perbedaan nilai, asumsi, dan persepsi antaranya psikolog dan klienya
- Knowledge: Memahami bidang permasalahan yang akan dibicarakan klien. Baik masalah khusus seperti abnormalitas sampai masalah umum seperti budaya.
- Skills: Kemampuan untuk menyamakan dan menyesuaikan diri dengan klien. Termasuk merasakan empati terhadap klien
- Competence: bertindak sesuai kemampuan dan batasan kita
- Informed consent: bertujuan untuk memberikan informasi dan meminta persetujuan dengan klien
- Confidentially: wajib bagi seorang psikolog untuk menjaga rahasia seorang klien
Langganan:
Postingan (Atom)